Vidyapati W. Mangunkusumo

Artikel di bawah ini merupakan riwayat artikel yang dibuat pada tanggal 19 Apr 2026 21:43 (2 minggu yang lalu).
Untuk melihat artikel ini dalam kondisi terupdate, silakan menuju halaman ini.

 

Indonesia kehilangan salah satu putra terbaik di dunia oftalmologi, DR. Dr. Vidyapati W. Mangunkusumo, SpM(K), yang akrab disapa Dr. Vid, berpulang pada 13 April 2026 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, dalam usia 80 tahun. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam—tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi seluruh komunitas kesehatan mata Indonesia.

Lahir di Jakarta pada 31 Oktober 1945, Dr. Vid memulai pendidikan spesialis mata di Universitas Indonesia pada 1971 dan merampungkannya pada 1976. Sejak saat itu, beliau mengabdi sebagai staf pengajar di Departemen Oftalmologi FKUI pada Divisi Refraksi, Lensa Kontak, dan Bedah Segmen Anterior—dan kelak dipercaya menjadi Kepala Divisi Refraksi. Di ruang akademik maupun klinik, beliau dikenal sebagai mentor yang membentuk ketelitian, cara berpikir, dan etika profesi bagi generasi dokter mata Indonesia.

Pada 1993, Dr. Vid bergabung dengan Jakarta Eye Center (JEC) sebagai konsultan bedah katarak dan refraktif. Sebagai salah satu pendiri INASCRS (Indonesian Society of Cataract and Refractive Surgery), beliau memperkenalkan teknik phacoemulsification dalam operasi katarak massal di seluruh Indonesia, menghasilkan waktu pemulihan lebih singkat dan pengendalian komplikasi yang lebih baik. Kiprahnya pula yang membuka program fellowship pertama di JEC untuk pelatihan phacoemulsification. Dalam jajaran manajemen JEC, beliau menjabat sebagai Dewan Komisaris PT Nitrasanata Dharma (2011–2015) dan PT JEC Medika Indonesia (2015–2026).

Di balik prestasi klinis dan akademisnya, Dr. Vid menyimpan kepedulian sosial yang tulus. Ia mendirikan Balai Kesehatan Mata Darma Usada Netra di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat—sebuah klinik yang diresmikan pada 2006 untuk menghadirkan pemeriksaan mata dan operasi katarak gratis bagi masyarakat kurang mampu. Sejak saat itu, ribuan pasien telah kembali melihat dunia berkat pengabdian beliau. Di klinik ini pula, Dr. Vid membimbing para sukarelawan—dokter muda dan mahasiswa kedokteran—tidak hanya dalam keterampilan bedah, tetapi juga dalam nilai-nilai kemanusiaan dan semangat melayani.

Gelar doktoralnya diraih dari Universitas Gajah Mada, dengan penelitian pionir tentang penggunaan Capsular Bag Tension Ring (CTR) pada kasus katarak dengan panjang aksial melebihi 27,0 mm—sebuah karya yang membuktikan manfaat signifikan terhadap luaran refraktif jangka panjang.

Dr. Vid aktif dalam berbagai organisasi profesi nasional maupun internasional: PERDAMI, IDI, ASCRS, ESCRS, APACRS, dan Contact Lens Association of Ophthalmologists (USA). Ia dikenal sebagai pembicara dan moderator di berbagai forum ilmiah, dengan kontribusi pemikiran yang mendalam dan berwawasan luas. Di luar dunia medis, beliau memiliki kecintaan terhadap musik dan literasi—menuangkan refleksi hidupnya dalam tulisan-tulisan inspiratif, termasuk sebuah biografi berjudul Mata, Cinta dan Terang Semesta.

Beliau meninggalkan seorang istri, dr. Endang Mangunkusumo, Sp.THT-KL; tiga orang anak: Erindra Krisnawan Mangunkusumo, dr. Erlangga Ariadarma Mangunkusumo, SpM, dan Diaz Wisnuwardana Mangunkusumo; tiga orang menantu serta tujuh orang cucu.


Tag: Vidyapati